Minggu, 19 Agustus 2012

Renungan Harian: Kamis 23 Agustus 2012


Renungan Harian: Kamis 23 Agustus 2012
Mat 22:1-14
Pada suatu ketika Yesus berbicara kepada para imam kepala dan pemuda rakyat dengan memakai perumpamaan. Ia bersabda,"Hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang raja yang mengadakan perjamuan nikah untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan nikah itu tetapi mereka tidak mau datang.
Raja itu menyuruh pula hamba-hamba lain dengan pesan, 'Katakanlah kepada para undangan; Hidanganku sudah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih. Semuanya telah tersedia.
Datanglah ke perjamuan nikah ini.' Tetapi para undangan itu tidak mengindahkannya. Ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap para hamba itu, menyiksa dan membunuhnya. Maka murkalah raja itu. Ia lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka. Kemudian ia berkata kepada para hamba,
'Perjamuan nikah telah tersedia, tetapi yang diundang tidak layak untuk itu. Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kalian jumpai di sana ke perjamuan nikah ini. Maka pergilah para hamba dan mereka mengumpulkan semua ....

Pakaian Pesta
 Perjamuan kemesiasan merupakan sebuah tema, yang amat lazim dalam tradisi kenabian. Yesus memanfaatkannya secara spontan untuk menggambarkan kerajaan yang diberitakan-Nya. Namun, perumpamaan tentang perjamuan pernikahan, sebagaimana diceritakan dalam Injil Matius ini, juga menggambarkan apa yang menjadi pusat perhatian penyusun Injil itu sendiri.
 Kedua kelompok utusan sang majikan, baik para nabi (golongan pertama para hamba), maupun para rasul (golongan kedua) mengalami nasib yang serupa. Sebab para undangan perjamuan (yaitu Yudaisme yang resmi) menuduh atau malahan membunuh mereka. Hukuman pun segera datang: Yerusalem dihancurkan (ay. 7). Setelah itu, perjamuan dapat dimulai dengan tenang. Perjamuan itu akan dihadiri oleh sebanyak mungkin manusia, oleh mereka yang baik maupun yang jahat (ay 10).
 Akan tetapi, mengingat ketelitian Matius dalam menegaskan, bahwa keanggotaan Kerajaan Allah secara lahiriah saja tidak mencukupi, maka perjamuan yang bercorak kemesiasan ini, diubah Matius menjadi sebuah perjamuan pernikahan. Dengan perubahan ini Matius lebih leluasa dalam mengemukakan tema mengenai pakaian pesta. Untuk mengikuti pesta Kerajaan Allah, perlu berpakaian yang pantas. Artinya, perlu memenuhi tuntutan-tuntutan moral iman. Tanpa memenuhinya, orang akan dikeluarkan dari ruang pesta. Dengan demikian, kita layak diundang mengikuti perjamuan Tuhan (HN).

Pelita Hati: Pakaian pesta adalah kebajikan iman yang nyata dalam hidup kita, seperti kasih, damai, pengampunan, dan keadilan.

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar