Minggu, 15 Juli 2012

Renungan Harian: Selasa 17 Juli 2012

Renungan Harian: Selasa 17 Juli 2012

Mat 11:20-24

Sekali peristiwa Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat meskipun di sana Ia melakukan paling banyak mukjizat. Ia berkata,"Celakalah engkau, Khorazim! Celakalah engkau, Betsaida! Karena jika di Tirus dan Sidon terjadi mukjizat-mukjizat yang telah Kulakukan di tengah-tengahmu, pasti sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Tetapi Aku berkata kepadamu, 'Pada hari penghakiman tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan daripada tanggunganmu.'

Dan engkau, Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak! Engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati?

Karena jika di Sodom terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengahmu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini. Maka Aku berkata kepadamu, "Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom, akan lebih ringan daripada tanggunganmu."

 

BERTOBATLAH!

Karya nabi Yesaya terlibat dalam politik yang menimpa bangsa Yehuda. Keterlibatan itu memaksa nabi turun tangan untuk mencegah Raja Akas berperang dengan tentara Assiria. Hal itu karena perang tidak akan menyelamatkan Yerusalem dan rakyat. Yerusalem dan rakyat akan selamat bila raja percaya pada Yahwe. Nabi meyakinkan raja untuk percaya pada Yahwe karena dari Yahwelah diperoleh stabilitas dan perlindungan, bukan dari kekuatan senjata.

Pertentangan yang terjadi pada era nabi Yesaya mirip dengan Injil hari ini. Dalam Injil hari ini, muncul dua sikap yang bertentangan satu sama lain, yaitu yang menerima Yesus dan berjuang bersama-Nya dan sikap tidak percaya dengan akibat bahwa kelompok atau kota yang bersikap tak menerima Yesus akan hancur. Teguran dan ancaman Yesus terhadap tiga kota itu, yakni Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum. Di tengah kota-kota ini Yesus telah menunjukkan karyanya yang disertai dengan mukjizat, tetapi penduduk tetap tidak menerima Yesus. Hal itu membuat Yesus mengucapkan nada ancaman dengan kata "celakalah". Ancaman ini diungkapkan Yesus sebagai ajakan kepada mereka untuk bertobat.

Nasib ketiga kota yang tidak bersedia menerima Yesus ini hendaknya menjadi suatu peringatan yang kuat dan menuntut perubahan tingkah laku kita. Hal itu mengingat di daerah mana pun karya keselamatan tidak akan nyata bila kita tidak bertobat dan menerima Injil. Sebab mendengar Sabda ilahi sungguh-sungguh membebaskan kita dari kebutaan hati. Celakalah, itu bukan untuk menimbulkan ketakutan, rasa gelisah, dan ancaman melainkan menyegarkan semangat kesetiaan karena hanya Injil yang mampu membawa kita kepada kehidupan (SS).

 

Pelita Hati: Hanya Injil yang mampu membawa kita kepada kehidupan.

 

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar