Senin, 23 Juli 2012

Renungan Harian: Sabtu 28 Juli 2012

Renungan Harian: Sabtu 28 Juli 2012

Mat 13:24-30

Pada suatu hari Yesus membentangkan suatu perumpamaan kepada orang banyak. "Hal Kerajaan Surga itu seumpama orang yang menaburkan benih baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya, menaburkan benih lalang di antara gandum, lalu pergi. Ketika gandum tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu dan berkata kepadanya, 'Tuan, bukankah benih baik yang Tuan taburkan di ladang Tuan? Dari manaka lalang itu? Jawab tuan itu,'Seorang musuh yang melakukannya!' Lalu berkatalah para hamba itu, 'Maukah Tuan, supaya kami pergi mencabuti lalang itu?' Tetapi ia menjawab, 'Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kalian mencabut lalangnya.

Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai tiba. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai, 'Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandumnya ke dalam lumbungku.'

 

HIDUP BIJAK

Tidak ada yang abadi di bumi ini. Segala yang ada di dalamnya ada akhirnya. Karena itu, kita harus hidup dengan bijak. Terbuka pada perkembangan pun perubahan yang ada dengan tetap memperhatikan nilai-nilai baik yang ada. Bila saatnya tiba, kita mesti mengambil sikap yang tepat dan bijaksana dan tetap memperhatikan kepentingan bersama.

Injil hari ini berkisah tentang perumpamaan lalang di antara gandum. Gandum merupakan benih yang baik dan sengaja ditanam agar tumbuh dan menghasilkan bulir yang banyak. Sedang lalang merupakan tanaman perusak yang tumbuh untuk menghalangi pertumbuhan gandum. Jika lalang dibiarkan hidup lebih lama bersama dengan gandum, maka pertumbuhan gandum tidak akan baik. Akibatnya gandum tidak akan menghasilkan bulir yang melimpah. Itulah sebabnya hamba tuan si empunya ladang itu mengusulkan agar lalang itu segera dicabut. Sayang, si tuan empunya ladang itu melarang. Ia takut jangan-jangan gandum itu ikut tercabut. Akibatnya, si tuan empunya ladang itu pun menunggu waktu panen tiba.

Perumpamaan ini memberi pesan kepada kita yang belum hidup di jalan Tuhan bahwa Tuhan masih memberi waktu kepada kita untuk bertobat hingga hari Tuhan tiba. Demikian pula bagi kita orang baik, Tuhan menghendaki agar kita juga tetap bertahan dalam perbuatan baik sampai hari Tuhan tiba. Dengan demikian, Tuhan akan sama-sama merangkul kita untuk hidup abadi. Sanggupkah kita berbuat demikian (RBM).

 

Pelita Hati: Tuhan menghendaki agar kita semua memperoleh hidup abadi bersama dengan-Nya..

 

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar