Selasa, 31 Juli 2012

Renungan Harian: Jumat 03 Agustus 2012

Renungan Harian: Jumat 03 Agustus 2012

Mat 13:54-58

Pada suatu hari Yesus kembali ke tempat asal-Nya. Di sana Ia mengajar orang di rumah ibadat mereka. Orang-orang takjub dan berkata, "Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu? Bukankah Dia itu anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka, "Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya." Karena ketidakpercayaan mereka itu, maka Yesus tidak mengerjakan banyak mukjizat di situ.

 

IRIHATI

Jika dihilangkan semua sebutan "Tuhan" dan "guru", Yesus nampak dalam ke-biasa-an-Nya, anak orang kampung, yang waktu bersama mereka tidak menampilkan keistimewaan apa-apa di tengah desa. Maka jelas pertanyaan orang sekampung, seteman, sesaudara, dan seangkatan: "Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mukjizat...?" Yesus tidak mengistimewakan diri atau mau menyembunyikan asal usul-Nya. Ia membiarkan mereka bersoal jawab, memeriksa, dan menemukan sendiri "apakah ada kepalsuan di dalamnya".

Pada dasarnya orang tidak bisa menerima, bahwa ada sesuatu yang baik datang dari Nazaret, bahwa ada seorang nabi datang dari Galilea! Bukti dalam perbuatan tidak diikuti, karena orang tidak mau melihat, tidak mau percaya, bahwa "ada seorang nabi di tempat asal mereka sendiri". Inilah bentuk sikap iri, tidak rela ada orang yang melebihi mereka sendiri. Karena iri orang dapat menutup mata terhadap kebenaran: Juga Putera Allah pun tidak dapat membuktikan diri, tetapi ditolak, tak akan diterima. Rasa iri dapat menyesatkan penilaian kita terhadap sesama, bahkan terhadap Allah juga (HN).

 

Pelita Hati: Karena iri, orang dapat menutup mata terhadap kebenaran.

 

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar