Rabu, 06 Juni 2012

Renungan Harian: Sabtu 9 Juni 2012

Renungan Harian: Sabtu 9 Juni 2012

Mrk 12:38-44

Pada suatu hari Yesus dalam pengajaran-Nya berkata, "Waspadalah terhadap ahli-ahli Taurat. Mereka suka berjalan-jalan dengan  pakaian panjang dan suka menerima penghormatan di pasar. Mereka suka menduduki tempat-tempat terdepan dalam rumah ibadat dan tempat terhormat dalam perjamuan. Mereka mencaplok rumah janda-janda sambil mengelabui orang dengan doa panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat." Pada kali lain sambil duduk berhadapan dengan peti persembahan Yesus memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda miskin. Ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. Maka Yesus memanggil para murid-Nya dan berkata kepada mereka. "Aku berkata kepadamu, Sesungguhnya janda miskin itu memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda itu memberi dari kekurangannya: semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya."

 

MENCINTAI DAN MEMBERI

Jika esensi dari kekristenan adalah mencintai, maka esensi mencintai adalah memberi. Karena itu, kita tidak dapat menjadi seorang Kristen tanpa mencintai dan tanpa memberi. Bagaimana mencintai dan memberi itulah pesan Injil hari ini. Pesan Injil ini diambil dari cerita tentang persembahan seorang janda miskin.

Ada tiga pelajaran yang dapat ditarik dari kisah Injil hari ini tentang memberi. Pertama, janda miskin itu memberi dengan diam-diam. Tidak seperti orang-orang kaya di Bait Allah, janda miskin itu memberi dengan diam-diam, tanpa gembar-gembor. Sikap diam janda miskin itu menarik karena kita adalah orang-orang yang suka perhatian. Kedua, janda miskin itu memberi dengan gembira. Dia memberi dengan gembira, tanpa mengomel, tanpa mengharapkan balasan, tanpa mengeluh. Dia tidak mencoba mendramatisir kemiskinannya dalam memberi. Ketiga, janda miskin itu memberi secara total. Orang miskin bukanlah orang yang tidak memberi apa pun. Orang miskin adalah orang yang mempertahankan segala sesuatu. Bukanlah kemiskinan yang terberkati bila kita mempertahankan segala sesuatu. 

Menurut Santo Yohanes dari Salib, di pengadilan terakhir kepada kita akan ditanya seberapa besar kita mencintai sesama. Saat itu yang dilihat bukanlah berapa banyak kita memberi, tetapi berapa banyak kita mempertahankan sesuatu sehingga membatasi kemurahan hati kita. Maka mari kita memberi dengan diam-diam, tanpa gembar-gembor, dengan gembira dan disertai senyum dan secara total, tanpa menghitung-hitung besarnya (DES).

 

Pelita Hati: Berilah sesuatu dengan diam-diam tanpa menggembor-gemborkannya pada orang lain.

 

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar