Senin, 11 Juni 2012

Renungan Harian: Kamis 14 Juni 2012

Renungan Harian: Kamis 14 Juni 2012

Mat 5:20-26

Dalam khotbah di bukit, berkatalah Yesus, "Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup  keagamaan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Kalian telah mendengar apa yang disabdakan kepada  nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya, harus dihukum! Barangsiapa berkata kepada saudaranya: 'Kafir!' harus dihadapkan ke mahkamah agama, dan siapa yang berkata: 'Jahil!' harus diserahkan ke dalam  neraka yang menyala-nyala. Sebab itu jika engkau...

 

KOMUNIKASI, KOMPROMI, KONTEMPLASI

Di Bait Allah Yesus marah karena para pedagang memperlakukan Bait Allah menjadi seperti pasar. Yesus marah kepada ahli Taurat karena mereka menilai hukum lebih penting daripada rasa lapar para murid. Yesus pun marah kepada kaum Farisi karena memandang hukum lebih berharga daripada orang yang lumpuh. Yesus marah kepada para ahli Taurat dan orang Farisi, bahkan menyebut mereka ular beludak.

Apa yang ingin dikatakan Yesus dengan marah? Kemarahan yang disebutkan oleh Tuhan dalam Injil hari ini tidaklah sama dengan kemarahan Tuhan di Bait Allah atau terhadap orang Farisi atau ahli Taurat karena kekerasan hati mereka. Kemarahan dalam Injil hari ini adalah kemarahan yang dipelihara, dipertahankan, yang makin hari makin besar, dan terus bertahan selama bertahun-tahun. Kemarahan seperti itu adalah kemarahan yang kita bawa tidur, juga ketika bangun. Kemarahan seperti itu membuat Tuhan sedih. Ilmu psikologi modern menyebut kemarahan seperti itu sebagai kebencian, yang mengarah kepada penolakan, bahkan kepada balas dendam. Bagaimana kita mengatasi kemarahan seperti itu? Pertama, komunikasi. Kedua, kompromi. Ketiga adalah kontemplasi.

Pertama, komunikasi. Ketika terjadi kemarahan atau sakit hati, maka berbicaralah. Sampaikan rasa sakit hatimu kepada sahabat atau orang yang bisa memahamimu. Dengan berkomunikasi, kita membangun jembatan bukan tembok. Kedua, kompromi. Bukan berkompromi terhadap kejahatan. Jauh lebih baik mencari titik temu, titik tengah, di mana satu pihak mengalah dan pihak lain juga, sehingga mereka dapat bertemu. Berkompromi di sini, tidak dimaksudkan terhadap prinsip-prinsip dasar apalagi perintah Tuhan. Ada hal-hal yang harus kita pertahankan mati-matian, tetapi ada juga yang dapat kita kompromikan atau mengalah. Kita harus belajar mengalah. Ketiga adalah kontemplasi. Ketika kita telah bertemu di tengah, mari kita bersama-sama melihat arah yang sama dan berdoa (DES).

 

Pelita Hati: Orang lebih berharga daripada hukum apa pun.

 

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar