Minggu, 06 Mei 2012

Renungan Harian: Selasa 8 Mei 2012

Renungan Harian: Selasa 8 Mei 2012

Yoh 14:27-31a

Dalam amanat perpisahan-Nya Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,

"Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu! Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu. Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar daripada Aku. Sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya apabila hal itu terjadi, kamu percaya. Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa....

 

DAMAI SEJAHTERA AKAN MENJADI MILIK KITA

Injil hari ini berbicara dalam konteks kasih. Kasih yang tidak pernah berkesudahan ialah Yesus yang telah memberi diri-Nya sebagai tebusan dosa manusia.  Maka untuk menjadi lingkaran kasih itu, Yesus juga meminta kita untuk saling mengasihi. Model kasih kita tentu kasih-Nya yang sejati dan tidak pernah berubah, kendati dalam situasi apa pun. Kasih sejati itu tidak mengenal waktu dan tempat, maka Yesus mengatakan, "Aku akan pergi, tetapi Aku akan datang kembali. Kalau kalian mengasihi Aku, kalian akan senang Aku pergi  kepada Bapa, sebab Bapa lebih besar daripada-Ku." Dengan ini Yesus juga menegaskan bahwa Ia harus kembali kepada Bapa, yang Ia taati. Yesus mengasihi Bapa-Nya dan melakukan segala yang diperintahkan Bapa kepada-Nya.

Kasih adalah lem perekat yang mempersatukan  relasi hidup kita satu sama lain. Kasih juga merupakan dasar hidup kita sebagai umat Kristen. Maka Yesus dalam pewartaan-Nya sering mendorong dan menganjurkan kita untuk hidup dalam kasih, berbuah dalam kasih.

Namun, kalau kita meneropong realitas hidup saat ini, barangkali kita "sedih" karena umat manusia hidup jauh dari kasih. Atau barangkali erat dengan pengalaman kita sendiri, di mana masih ada rasa benci, sakit hati, dan dendam.  Kenyataan lain, banyak orang berbicara tentang kasih, namun sangat kurang dalam tindakan dan perbuatan.  Karena itu, kasih bukan sebatas kata indah. Kasih juga bukan hanya di mulut, namun harus diwujudkan dalam perbuatan konkret. Kasih sejati akan melenyapkan ketakutan, kebencian, dan balas dendam.

Kalau ini nyata dalam diri kita maka damai sejahtera yang dijanjikan Yesus sebagaimana Injil  katakan, akan bergema dalam diri dan hidup kita. Damai itu akan menjadi milik kita kalau kita saling mengasihi dan menunjukkan kasih itu, walau dalam situasi apa pun. Semoga (YIS).

 

Pelita Hati: Kasih adalah lem perekat yang mempersatukan  relasi hidup kita satu sama lain.

 

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar