Jumat, 25 Mei 2012

Renungan Harian: Rabu, 30 Mei 2012

Renungan Harian: Rabu, 30 Mei 2012

Mrk 10:32-45

Sekali peristiwa Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan ke Yerusalem. Yesus berjalan di depan. Para murid merasa cemas, dan orang-orang yang mengikuti Dia dari belakang pun merasa takut. Sekali lagi Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan Ia mulai mengatakan kepada mereka apa yang akan terjadi atas diri-Nya. Yesus berkata,"Sekarang kita pergi ke Yerusalem, dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat. Mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Ia akan diolok-olok, diludahi, disesah dan dibunuh, dan sesudah tiga hari Ia akan bangkit." Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus. Mereka berkata, "Guru, kami harap Engkau mengabulkan suatu permohonan kami." Jawab Yesus,"Apakah yang kalian ingin Kuperbuat bagimu?" Mereka menjawab, "Perkenankanlah kami ini duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, seorang di sebelah kanan, dan seorang di sebelah kiri-Mu."

Tetapi Yesus berkata kepada mereka, "Kalian tidak tahu apa yang kalian minta. Sanggupkah kalian meminum piala yang harus Kuminum? Dan dibaptis dengan pembaptisan yang harus Kuterima?" ....

TINDAKAN YESUS

Seorang guru agama Katolik menerangkan kepada murid-muridnya mengapa Yesus wafat di salib. Dia mengatakan bahwa Yesus wafat di salib untuk menebus dosa-dosa manusia. Dia menumpahkan darah-Nya bagi Bapa di surga sebagai silih atas dosa-dosa manusia. Seorang siswa segera mengacungkan tangan dan berkata, "Bapa yang sangat bodoh!" Bukan hanya anak-anak yang memberikan reaksi seperti itu ketika mendengar jenis teologi seperti itu. Bagaimana mungkin Allah meminta darah sebagai ganti atas dosa-dosa? Tetapi, begitulah cerita Kitab Suci.

Dalam Injil Markus, Yesus mengatakan bahwa Ia akan "menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan atas banyak orang." Kesulitannya bukanlah pada konsep korban. Kesulitannya terletak pada paham tentang Allah yang menuntut supaya tebusan diberikan. Sementara Injil Lukas menceritakan bahwa kematian Yesus tidak berkaitan dengan tebusan yang dituntut oleh Allah. Di dalam Injil ini dikisahkan seorang penjahat yang disalibkan bersama dengan Yesus mengatakan kepada penjahat yang lain mengapa Yesus mati: "Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah." Penjahat itu benar.

Yesus rela menyerahkan hidupnya untuk membuktikan kepada kita bahwa kabar gembira yang Ia bawa lebih daripada sekadar kemungkinan (possibility). Tindakan Yesus merupakan satu-satunya jawaban terhadap masalah-masalah kita yang disebabkan oleh kejahatan dan dosa (DES).

 

Pelita Hati: Yesus rela menyerahkan hidupnya untuk membuktikan kepada kita bahwa kabar gembira yang Ia bawa lebih daripada sekadar kemungkinan.

 

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar