Jumat, 25 Mei 2012

Renungan Harian: Minggu, 27 Mei 2012

Renungan Harian: Minggu, 27 Mei 2012
Yoh 20:19-23
Setelah Yesus disalibkan, pada malam pertama sesudah hari Sabat, berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus, berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata,
"Damai sejahtera bagi kamu!" Dan sesudah berkata demikian Yesus menunjukkan tangan dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. Maka kata Yesus lagi,"Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu." Dan sesudah berkata demikian, Yesus menghembusi mereka dan berkata, "Terimalah Roh kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada."
BAHASA CINTA KASIH
Pada hari ini kita merayakan Hari Raya Pentekosta. Ini adalah salah satu hari sukacita karena Yesus menggenapi janji-Nya lewat curahan Roh Kudus pada hari ini. Sepuluh hari setelah Yesus naik ke surga, kita menanti-nantikan Roh Kudus itu. Ialah yang akan mengarahkan, membimbing, dan menguatkan kita dalam setiap sisi hidup dan janji itu digenapi pada hari ini.
Kita bisa membayangkan sukacita penuh yang dialami oleh para murid sebagaimana dikisahkan dalam bacaan pertama. Mereka bersatu dalam iman, kasih, dan peristiwa agung dan kesatuan itu semakin akrab saat mereka bisa berbicara dan mengerti bahasa mereka masing-masing.
Sementara dalam Injil dikisahkan kegembiraan para murid atas kunjungan Yesus. Dengan sapaan khas Yesus mengatakan, "Salam sejahtera bagimu sambil menganugerahkan (meniupkan) Roh Kudus." Muatan terdalam dari kisah ini ialah penugasan dan perintah bagi mereka untuk pergi ke seluruh dunia dan mewartakan Injil. Serentak dengan itu, Yesus memberi kuasa kepada mereka untuk mengampuni dosa orang.
Apa yang bisa kita petik dari peristiwa Pentekosta? Jawabannya ialah Kasih. Kasih akan Allah dan kasih akan sesama. Maka judul di atas, Bahasa Cinta Kasih hendaknya menjadi cara hidup kita sehari-hari. Inilah bahasa yang mempersatukan kita; lemah lembut, sopan, pengertian, saling memahami, tidak menaruh curiga, berpikiran positif dst. Lewat cara inilah kita dipanggil mewartakan kabar gembira. Kita mohon bantuan Roh Kudus, agar kita mampu mewujudkan dan menghayati bahasa cinta kasih itu dalam hidup harian kita (YIS).

Pelita Hati: Cinta kasih hendaknya menjadi cara hidup kita sehari-hari.

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.


Pax et Bonum

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar