Selasa, 10 April 2012

Renungan Harian: Minggu 15 April 2012

Renungan Harian: Minggu 15 April 2012

Yoh 20:19-31

Setelah Yesus wafat di salib, pada malam pertama sesudah hari Sabat, berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus, berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, "Damai sejahtera bagi kamu!"  Sesudah berkata demikian, Yesus menunjukkan tangan dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. Maka kata Yesus sekali lagi, "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu." Dan sesudah berkata demikian, Yesus menghembus mereka dan berkata, "Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada."  Pada waktu Yesus datang itu, Tomas, seorang dari keduabelas murid, yang juga disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka. Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya, "Kami telah melihat Tuhan!" tetapi Tomas berkata kepada mereka,"Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya, dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu, dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, aku sama sekali tidak akan percaya." Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu, dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang. Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata,"Damai sejahtera bagi kamu!" Kemudian Yesus berkata...

TIDAK MELIHAT NAMUN PERCAYA

Ketika seorang bapak dikatakan dokter tidak punya penyakit apa-apa, keluarga lantas berpikir macam-macam. Bapak jelas-jelas sakit tapi dinyatakan nihil. Mana mungkin! Pengobatan alternatif pun akhirnya dicari sebagai jalan, karena merasa tidak ada gunanya lagi berdoa. Sudah sering berdoa dan novena seakan tidak ada hasilnya.

Thomas juga bagian dari wakil kita orang yang pernah ragu-ragu tentang kebangkitan Yesus. Makam kosong bukanlah bukti kuat bagi Thomas."Kalau saya tidak menjamah-Nya .... saya tidak akan percaya". Itulah kata-kata yang muncul dari kita pada zaman sekarang. Harus ada bukti dulu baru percaya. Zaman sekarang ini adalah zaman instan, seakan proses waktu refleksi tak ada lagi. Ada janji ada bukti. Pemikiran duniawi juga jadi penghambat untuk memahami rahasia cinta Allah. Perlukah kita melihat Allah dulu baru percaya? Perlukah kita merasakan secara fisik baru pasrah kepada kehendak-Nya?

Beriman kepada Allah adalah soal kerelaan hati, bukan terpaksa. Berani membiarkan Allah bekerja dalam diri kita. Allah bukan mengawasi hidup kita, tetapi mendampingi kita untuk jalan keselamatan dan sukacita (BTK).

 

Pelita Hati: Ekaristi juga satu kurban, karena ia suatu kenangan akan Paskah Kristus( KGK, 1365)

 

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar