Minggu, 01 April 2012

Renungan Harian: Kamis 5 April 2012

Renungan Harian: Kamis 5 April 2012

Yoh 13: 1- 15

Sebelum Hari Raya Paskah mulai, Yesus sudah tahu bahwa saatnya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sebagaimana Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya, demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai saat terakhir. Ketika mereka sedang makan bersama, Iblis membisikkan dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, rencana untuk mengkhianati Yesus. Yesus tahu, bahwa Bapa telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Maka bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya. Kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya, lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya, "Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?" Jawab Yesus kepadanya, "Apa yang Kuperbuat, engkau tidak mengerti sekarang, tetapi engkau akan memahaminya kelak." Kata Petrus kepada-Nya, "Selama-lamanya Engkau tidak akan membasuh kakiku!" Jawab Yesus, "Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak akan mendapat bagian bersama Aku." Kata Simon Petrus  kepada-Nya, "Tuhan, jangan kakiku saja, tetapi juga tangan ....

 

HIDUP KITA MERUPAKAN EKARISTI

Kamis Putih menyajikan liturgi yang penuh tanda, lambang. Makna Cinta dapat dijelaskan dari pelbagai sudut, kaya artinya. Kita mengenangkan Yesus Kristus yang memberikan Diri-Nya kepada kita. Pada Perjamuan malam terakhir Yesus menunjukkan cinta-Nya secara tuntas.

Cinta yang besar dibagikan dalam wujud Roti dan Anggur kehidupan: "Ambillah dan makanlah, Inilah Tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu". Demikian juga sampai aliran darah penuh cinta: "Inilah darah-Ku, darah perjanjian baru, yang ditumpahkan bagi banyak orang". Kedua tanda dan sarana keselamatan ini dibuktikan Yesus sendiri ketika harus menderita dan ungkapan kematian-Nya di kayu salib. Diri-Nya dibagikan, dicabik-cabik, dan dipecah-pecahkan serta diserahkan kepada kita. Pesan akhir penuh makna disampaikan kepada kita: "Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku ....".

Hidup kita sebenarnya diminta demikian. Sebagai seorang istri bagi suaminya; orangtua terhadap anak-anaknya. Biarawan-biarawati yang rajin merayakan Ekaristi penuh cinta hampir tiap hari di gereja atau kapel. Masih adakah cinta di hati ini seperti makna Cinta Kristus yang besar? Rayakan misteri iman ini dalam tiap kesempatan dengan ucapan syukur, itulah pemecahan dan penyerahan diri. Terima kasih Yesus, karena Kauberikan teladan kerendahan hati yang total untuk merayakan Ekaristi-Mu (BTK ).

 

Pelita Hati: Satu hal yang pertama dan terakhir yang dituntut dari seorang yang pandai adalah cinta akan kebenaran.

 

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar