Sabtu, 03 Maret 2012

RENUNGAN HARIAN: Rabu, 7 Maret 2012

RENUNGAN HARIAN: Rabu, 7 Maret 2012

Mat 20:17-28

Pada waktu Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka, "Sekarang kita pergi ke Yerusalem, dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olok, disesah dan disalibkan, tetapi pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan." Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus beserta anak-anaknya kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya, Kata Yesus ,"Apa yang kau kehendaki?" Jawab ibu itu, "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini kelak boleh duduk di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan seorang lagi di sebelah kiri-Mu." Tetapi Yesus menjawab, "Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?" Kata mereka kepada-Nya,"Kami dapat." Yesus berkata kepada mereka, "Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya" Mendengar itu, marahlah kesepuluh murid ...

 

KESETIAAN

Kesetiaan pada janji membutuhkan pengorbanan dan komitmen yang besar. Tanpa pengorbanan dan komitmen kesetiaan kerap hanya sekadar kata-kata indah tak bermakna. Mudah mengucapkannya tetapi sulit melaksanakannya secara riil. Maka, seyogyanya kesetiaan itu harus diaplikasikan dalam wujud nyata. Kesetiaan bukanlah karena mengharapkan sebuah hadiah atau embel-embel pada yang diikuti melainkan kesetiaan murni tanpa pamrih.

Yesus dalam Injil yang kita dengar hari ini mengatakan kepada para Murid-Nya bahwa hal duduk di sebelah kanan dan kiri-Ku bukan Aku yang menentukan-Nya, tetapi Bapa-Ku yang memberikan itu kepada orang yang sudah ditentukan. Para Murid tidak terpengaruh oleh perkataan Yesus itu untuk tidak mengikuti-Nya. Mereka tetap setia mengikuti, menepati janji mereka untuk mengikuti Yesus. Bahkan mereka mengikuti jejak penderitaan Yesus, yakni dibunuh demi kerajaan Allah dan demi memenuhi persyaratan untuk duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus kelak. Hanya lewat jalan penderitaan inilah mereka bisa sampai kepada-Nya.

Setia pada janji adalah hal yang paling luhur dan pantas dikagumi. Sebab tidak ada kebohongan, tidak ada kepalsuan, jujur, dan tidak ada nilai bandingannya. Marilah kita mengingat kadar kesetiaan kita dalam menepati janji baptis dalam bentuk niat apa pun itu. Setiakah kita…? Untuk setia dibutuhkan pengorbanan yang  besar (SKb). 

 

Pelita Hati: "Buah dari kebenaran, adalah kejujuran hati, ketulusan diri  yang bersumber dari hati yang terarah kepada-Nya".

 

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar