Senin, 26 Maret 2012

Renungan Harian: Jumat 30 Maret 2012

Renungan Harian: Jumat 30 Maret 2012

Yoh 10: 31-42

Sekali peristiwa orang-orang Yahudi mau melempari Yesus dengan batu. Tetapi kata Yesus kepada mereka, "Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku Kuperlihatkan kepadamu; manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku dengan batu? Jawab orang-orang Yahudi itu, "Bukan karena suatu perbuatan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah, dan karena Engkau menyamakan diri-Mu dengan Allah, meskipun Engkau hanya seorang manusia." Kata Yesus kepada mereka, "Tidakkah ada tertulis dalam kitab Tauratmu, "Aku telah berfirman : Kamu adalah Allah?"

Padahal Kitab Suci tidak dapat dibatalkan! Maka, jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah, masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia. 'Engkau menghujat Allah!' karena Aku telah berkata : Aku anak Allah? Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah kamu percaya kepada-Ku. Tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa ada dalam Aku dan Aku ada di dalam Bapa." Sekali lagi mereka mencoba menangkap Yesus, tetapi Ia luput dari tangan mereka. Kemudian Yesus pergi lagi ke seberang Yordan, ke tempat Yohanes ...

 

SULIT PERCAYA

Pepatah mengatakan: "Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian". Pepatah ini jelas mengungkapkan keberanian untuk menjalani kesulitan dan penderitaan lebih dahulu, karena sesungguhnya ada kemuliaan di balik peristiwa itu semua.

Bacaan hari ini juga menjelaskan bagaimana nabi Yeremia punya keyakinan penuh bahwa di balik kematian ada yang lebih mulia. Kematian bagi orang utusan Tuhan akan membawa berkat keselamatan bagi banyak orang. Itulah semangat yang menjiwai Hamba Tuhan yang harus mengalami semua kesukaran dengan sikap pasrah. Tuhan Allah jadi pembela dirinya.

Dalam Injil Yesus juga berhadapan dengan para penentang. Banyak lawan Yesus, namun Dia tidak gentar. Segala tanda, perbuatan dan ajaran-Nya sulit mereka percaya. Pendengar bukan mendengarkan Sang Sabda yang berbicara, tetapi mereka hanya mendengarkan dirinya sendiri. Mereka terikat dengan daya pikirannya sendiri. Tidak terbuka hatinya. Dengan lugas Yesus mengajukan pilihan: mau percaya kepada Pribadi Yesus atau menolak-Nya sebagai Utusan Tuhan.

Marilah kita coba memahami kehadiran Allah lewat sesama di sekitar kita dan jangan cepat "negatif thinking" terhadap orang lain (BTK).

 

Pelita Hati: Hanya dengan hati seseorang dapat melihat dengan benar; apa yang pokok terlihat dengan mata.

 

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar