Minggu, 12 Februari 2012

RENUNGAN HARIAN: Kamis, 16 Februari 2012

RENUNGAN HARIAN: Kamis, 16 Februari 2012

Mrk 8:27-33

Pada suatu hari Yesus bersama murid-murid-Nya pergi ke kampung-kampung di sekitar Kaisarea Filipi. Di tengah jalan ia bertanya kepada murid-murid-Nya, "Kata orang, siapakah Aku ini?" Para murid menjawab,"Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan: seorang dari para nabi." Yesus bertanya lagi kepada mereka, "Tetapi menurut kamu, siapakah Aku ini?" Maka Petrus menjawab,"Engkaulah Mesias!" Dan Yesus melarang mereka dengan keras, supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang Dia. Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan. Ia akan ditolak oleh para tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh, dan bangkit sesudah tiga hari. Hal itu dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegur-Nya. Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya,"Enyahlah Iblis! Sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.

 

TANDA CINTA

Petrus manusia yang gagal dengan pernyataan sendiri, kecil dan takut, mendengar pemberitahuan tentang derita: inilah manusia yang sebenarnya, tetapi ia menolak. Sikap Yesus begitu tegas ketika mengoreksi sikap Petrus, sabda-Nya, "Enyahlah iblis!" Penolakan itu sama seperti kepada iblis juga total, tidak kepalang tanggung.

Kita tahu bahwa Dia adalah Mesias, Tuhan yang menebus kita dengan penderitaan-Nya. Namun demikian, Yesus tidak mengandalkan sesuatu dari manusia khususnya para murid-Nya, sebab sengsara dan salib yang dipikul-Nya adalah tanda cinta yang paling agung pada manusia. Meskipun demikian, kerap kali kita ingin Yesus mau menjadi Tuhan seperti yang kita pikirkan. Untuk itu, sering kita tidak sadar "mengharuskan" Yesus mengabulkan doa-doa kita.

Hati manusia sulit diduga, bisa memuji dan mengagungkan Tuhan, yang di dunia tidak ada bandingannya, tetapi juga dapat menjadi penghambat, mau menyelewengkan rencana Tuhan bagi Mesias, seperti dilakukan iblis di padang gurun. Adakah kita memiliki kepercayaan terhadap Yesus yang memiliki kuasa membangunkan kita? (SKw)

 

Pelita Hati: "Tinggi rendahnya rohani bergantung dari rahmat Allah"

 

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar