Senin, 30 Januari 2012

RENUNGAN HARIAN: Rabu, 1 Februari 2012


RENUNGAN HARIAN: Rabu, 1 Februari 2012
Mrk 6:1-6
Pada suatu ketika, Yesus tiba kembali di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia. Pada hari Sabat Yesus mengajar di rumah ibadat, dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia. Mereka berkata, “Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mukjizat-mukjizat yang demikian, bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya? Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria? Bukankah Ia saudara Yakobus, Yoses, Yudas, dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka, “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumah-nya.” Maka Yesus tidak mengadakan satu mukjizat pun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka. Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka. Lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar.

JANGAN MENILAI SESEORANG DARI LUARNYA
Menjadi pemimpin yang mau mengalami ketidakadilan pada zaman sekarang merupakan suatu hal yang sulit kita jumpai. Gaya kepemimpinan dunia ini memang sangat bertolak belakang dengan gaya kepemimpinan Kristiani dalam terang Injil. Dalam terang Injil, menjadi pengikut Kristus harus berani ditolak, dicurigai, dan diremehkan oleh orang sekitar kita. Hal inilah yang dialami oleh Yesus.
Untuk menjadi pewarta yang siap ditolak, terlebih dahulu kita harus menyadari kelemahan yang ada dalam diri kita. Karena dengan menyadari semuanya itu kita mampu menampakkan sikap kerendahan hati kepada orang lain baik itu lewat pewartaan maupun lewat tindakan sebagaimana yang diajarkan oleh Yesus Kristus. Yesus juga menjadi pemimpin dan raja orang Yahudi yang mengalami tantangan. Dia mewartakan Kerajaan Allah baik melalui kata-kata maupun perbuatan-Nya, tetapi Ia tetap ditolak sampai akhirnya dibunuh oleh bangsa-Nya sendiri.
Maka menjadi pemimpin Kristiani harus siap menderita, ditolak, dilecehkan demi untuk menyelamatkan orang lain. Yang menjadi pertanyaan adalah sanggupkah kita menjalaninya? Jika tidak maka kekristenan kita masih diragukan. Hal itu karena kita semua merupakan pemimpin, dalam keluarga dan diri kita (FP).

Pelita Hati: “Pemimpin yang baik harus merasakan penderitaan orang yang dipimpinnya.”

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar