Minggu, 15 Januari 2012

Kebijaksanaan Dalam Berpuasa (Mrk 2:18-22)


RENUNGAN HARIAN: SENIN, 16 JANUARI 2012
Mrk 2:18-22
Waktu itu murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa. Pada suatu hari datanglah orang-orang kepada Yesus dan berkata, “Murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa,
mengapa murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat pengantin pria berpuasa selagi pengantin itu bersama mereka? Selama pengantin itu ada bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang pengantin itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut  pada baju yang sudah tua, karena jika demikian, kain penambal itu akan mencabiknya; yang baru mencabik yang tua, sehingga makin besarlah koyaknya. Demikian juga tak seorang pun mengisikan anggur baru ke dalam kantong kulit yang sudah tua, karena jika demikian anggur tersebut akan mengoyakkan kantong itu, sehingga baik anggur maupun kantongnya akan terbuang. Jadi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.

Kebijaksanaan Dalam Berpuasa
Ada pepatah yang mengatakan, “Lain lubuk, lain ikannya”. Ungkapan ini menyatakan agar kita jangan menyamaratakan kebiasaan-kebiasaan yang ada di semua tempat dan keadaan. Yohanes dan orang Farisi berbeda dengan Yesus. Kebiasaan para murid Yohanes dan orang-orang Farisi berpuasa, tidak bisa begitu saja harus diikuti para murid Yesus.
Injil hari ini menyatakan bahwa berpuasa itu bukanlah berdasar pada suatu kebiasaan ataupun aturan turun-temurun. Berpuasa itu berasal dari hati dan terlebih melihat situasi kebutuhan yang ada. Dengan demikian, tujuan dari berpuasa semakin terarah, yaitu melatih manusia untuk menempatkan diri pada posisinya; hidup seimbang, serta menghargai nilai-nilai yang menjunjung kemanusiaan melebihi aturan kaku dari cara berpuasa.
Kita pun, dituntut untuk berpuasa. Hendaknya puasa yang kita lakukan bukan menjadi penghalang kita dalam mencinta, akan tetapi semakin mendekatkan kita pada Tuhan lewat menghargai serta tetap hormat akan kebutuhan yang ada (DG).

Pelita Hati: “Berpuasa bukanlah berdasar pada suatu kebiasaan ataupun aturan turun-temurun melainkan berasal dari hati”

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar